Akuntansi Persediaan

Category on Akuntansi Persediaan

Akuntansi Persediaan

Persediaan (inventory) dapat didefinisikan sebagai barang atau benda yang disimpan atau dijaga untuk nantinya dijual dalam suatu siklus bisnis yang normal. Pada perusahaan manufaktur, persediaan termasuk persediaan barang yang akan digunakan dalam proses produksi.

Sementara itu, pada perusahaan jasa umumnya tidak terlihat adanya persediaan karena perusahaan jasa mengolah sumber daya manusia sebagai aset utamanya. Pada perusahaan dagang, persediaan merupakan objek yang harus ada karena kegiatan utamanya adalah membeli, menyimpan, dan menjual persediaan.

Perbedaan persediaan antara perusahaan dagang dengan perusahaan manufaktur adalah jenisnya. Perusahaan dagang hanya mengenal satu jenis persediaan, yaitu barang dagangan yang akan dijual. Perusahaan manufaktur mengenal berbagai jenis persediaan yaitu:

–          Persediaan bahan baku, untuk produksi

–          Persediaan barang setengah jadi, untuk diproduksi lebih lanjut menjadi barang jadi

–          Persediaan barang jadi, untuk dijual

Di sini terlihat bahwa perusahaan manufaktur memiliki persediaan yang lebih kompleks karena berbagai jenis persediaannya. Persediaan bahan baku untuk perusahaan garmen misalnya, terdiri dari tekstil, benang, pewarna, dan lainnya yang dibeli dan belum dipergunakan.

Ada dua macam cara yang dikenal untuk menentukan unit persediaan, yaitu:

Persediaan Periodik

Persediaan periodik adalah cara penentuan unit persediaan dengan menghitung secara fisik pada suatu titik waktu yang ditentukan. Jadi, bila perusahaan akan menyajikan laporan keuangan per tanggal 31 Desember maka persediaan yang dicantumkan adalah persediaan per tanggal tersebut.

Unit yang dicatat adalah unit atau kuantitas persediaan berdasarkan penghitungan di lapangan (physucal inventory).

Persediaan Perpetual

Persediaan perpetual adalah cara penentuan unit persediaan dengan cara memelihara catatan administratif mengenai beberapa unit atas kuantitas yang dibeli dan beberapa yang dipakai. Perpetual akan dapat menghasilkan kuantitas persediaan akhir dengan perhitungan:

Persediaan awal

+

Pembelian

Pemakaian

=

Persediaan akhir

Secara teoritis bila pencatatan dilakukan dengan benar maka kuantitas persediaan akhir yang tercatat pada buku haruslah sama dengan kuantitas fisik yang ada dilapangan.

Cara mana yang paling baik? Kombinasi keduanya. Setiap hari persediaan dicatat dengan cara perpetual, kemudian pada titik waktu tertentu diadakan perhitungan fisik untuk memastikan bahwa kuantitas yang ada sama dengan kuantitas yang tercatat dibuku. Setelah kuantitas dapat diyakini kebenarannya maka langkah selanjutnya adalah menentukan berapa nilai persediaan tersebut yang akan disajikan dalam laporan keuangan.

Baca artikel lainnya, Penghapusan Langsung – Direct Write Off dan Cadangan Piutang Ragu-ragu atau Tak Tertagih.

tags: ,