Cadangan Piutang Ragu-ragu atau Tak Tertagih

Category on Akuntansi Piutang

Cadangan Piutang Ragu-ragu

Metode ini menganut implementasi dari prinsip konservatif. Bila ada kemungkinan biaya muncul (dalam bentuk piutang yang tidak tertagih) maka harus dibuat pencadangannya. Sementara itu, bila ada kemungkinan pendapatan tidak dilakukan pencatatan sampai pendapatan tadi terealisasi.

Pada periode di mana terjadi penjualan, suatu persentase disisihkan sebagai cadangan dalam perkiraan Cadangan piutang ragu-ragu (Allowance for doubtful account).

Perkiraan ini akan menampung pencadangan piutang yang tidak tertagih dan jumlahnya akan berkurang ketika piutang tersebut benar-benar tidak tertagih tanpa mengganggu pendapatan periode berjalan. Contoh ilustrasinya sebagai berikut:

Dari pengalaman diperoleh data bahwa rata-rata 2% dari seluruh tagihan atau piutang perusahaan tidak tertagih. Berdasarkan data ini dibuat suatu pencadangan, yaitu:

(Dr) Biaya piutang tidak tertagih 2% x 1 miliar Rp 20.000.000,-

(Cr) Cadangan piutang tidak tertagih Rp 20.000.000,-

Dengan demikian, harga pokok penjualan akan bertambah dengan Rp 20 juta dan penyajian laporan keuangan pada periode tersebut adalah:

Penjualan            Rp 1.000.000.000,-

Harga pokok       Rp 920.000.000,-

Laba                       Rp 20.000.000,-

Pada periode berikutnya ketika ada piutang yang tidak dapat ditagih sebesar Rp 20 juta yang berasal dari penjualan periode sebelumnya maka pencatatan yang dilakukan adalah:

(Dr) Cadangan piutang tidak tertagih Rp 20.000.000,-

(Cr) Piutang Rp 20.000.000,-

Bila ternyata semua piutang yang berasal dari penjualan tadi ternyata dapat ditagih maka bukan pencatatan koreksi yang harus dibuat. Perkiraan cadangan akan meningkat setiap tahun sebagai akibat dari pencadangan yang dibuat sebesar 2% dari penjualan. Pengurangan cadangan hanya terjadi ketika ada realisasi piutang yang benar-benar tidak tertagih.

Artikel lainnya, Komunikasi yang Baik dan Karakteristik Suatu Akun.